Selasa, 08 Oktober 2013

Yang Muda Yang Berpahala



Yang Muda Yang Berpahala

“Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi RabbNya, hingga dia ditanya tentang lima perkara (yaitu): tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan, dan dalam hal apa (hartanya tersebut) ia belanjakan serta apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu yang dimilikinya.”

~Baginda Rasulullah SAW~
Sabahabatku pengunjung tintacintadakwah Fillah, sudahkan kita mengejar pahala Allah hari ini? Benarkah kalau kita yang masih ramaja ini sulit untuk mengundang pahala Allah? Nampaknya kita harus merefresh pola fikir kita tentang hal yang dapat mengundang pahala Allah. Soalnya, kalau nunggu jadi menteri, kalau nunggu jadi presiden agar bisa dapat pahala, lah kapan kita bisa membuat kebaikan? Keburu banyak kesempatan berpahala yang terlewat begitu saja. Rugiiiiiiiiiiiiiiii.


Dunia remaja memang identik dengan dunia berfoya, senang-senang, atas nama “mencari” jati diri. Bahkan sampai ada ungkapan “muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga” mungkinkah? Tampaknya kita tak perlu mengikuti “tren” ini. Ada prinsip yang lebih baik, “kecil dibina, muda banyak karya, tua kaya jasa, mati masuk surga”. Bukankah nabi mewasiatkan bahwa salah satu dari 5 hal yang akan ditanya adalah tentang masa muda bagaimana kita menghabiskan? Mau diletakkan dimana muka kita kalau masa muda cuman dihabiskan untuk berfoya dan sia-sia? Bahkan yang dihabiskan uang orang tua lagi.. maluuuuuuuuu…

Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, Maka Tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan.
~Q.S Al-anbiya 47~


Sahabat-sahabati fillah, meskipun kita melakukan kebaikan kecil dengan niat tulus karena Allah. Pasti tetap dihitung oleh Allah. Sekecil biji sawi pun tak akan luput dari perhitungan Allah kelak.

Sahabatku, kebaikan pasti berbuah. Tak aka nada yang sia-sia. Bahkan sesuatu yang kita anggap kecil, remeh-temeh, bahkan tidak ada artinya pun boleh jadi sangat berharga bagi orang lain. So, jangan ragu untuk berbuat baik.

‘Ketika hari kiamat tiba, sementara salah seorang dari kalian memegang bibit pohon kurma. Maka hendaklah dia menanamnya’

~Baginda Rasulullah SAW~

So, tidak ada alasan lagi kan untuk tidak berbuat baik, berburu pahala Allah? Jika kita peka, pahala Allah tuh berserakan dimana-mana. Yuk belajar peka dengan peluang pahala sekecil apapun. Nih Fahmi kasih tau sedikit yang membuat remaja jadi lumbung pahala. Satu, dua, tiga :D

“berbagi makanan dengan teman”

Buat anak kos yang uangnya pas pasan pasti sering deh kekurangan makanan :P hampir –hampir ketemu mie saban hari hiks… nah ini ladang amal untuk kita meringankan beban teman. Meskipun hanya sebungkus nasi uduk, ataupun segelas minuman kemasan. Berbagi itu indah, dan semakin indah jika berbagi di kala kesempitan. Bukan berbagi kesempitan lho yaa!

“jadi teman curhat”

By the way, kalau konsultasi ke psikolog sejam aja habis berapa yaa? Hemm bisa sampai 1 jutaan. Kalau curhat keteman? GRATIIIIIISSSSS CUYYY… hihihihi… beruntunglah kita yang sering jadi tempat curhatan teman, jangan mikir kalau kita sering dicurhatin teman itu sama dengan tempat sampah, justru dengan mendengarkan kita bisa membantu meringankan beban teman. Syukur syukur bisa ngasih solusi. So, udah saatnya nih kita menjadi pendengar yang baik. Kalau dicurhatin temen, degarkan dengan tenang. Kalau perlu ngasih solusi, putuskan dengan hati. timbang dengan matang. Sampaikan dengan cinta… hihihi (belajar dari ummi)


“Menyerahkan kepada yang berhak untuk diserahi”

~Ulfatun Naqiah~

Meskipun menjadi teman curhat berpahala. Tapi ketika kita butuh teman curhat hati-hatilah memilih. Seperti kata Ulfa “hanya kepada yang berhak diserahi”. Yaps, karena kadang, ada orang-orang yang “hanya ingin tahu” masalah kita. Bahaya lagi kalau sesuatu yang rahasia tak mampu terjaga. Kalau bisa, curhatlah kepada yang lebih dewasa. Insya Allah banyak dapat Nashihat.

“Sharing ilmu”

Buat kita yang mempunyai kemampuan akademis mumpuni disekolah, jangan pelit deh buat sharing ilmu. Ini juga menjadi lahan pahala. Justru dengan dibagi ilmu itu bertambah dan lebih banyak, meluas dan melebar manfaatnya. Tapi ingat, bukan ngasih contekan lho yaa. :D

“barang siapa yang mengajarkan suatu ilmu, maka ia mendapat pahala orang yang mengamalkannya. tanpa mengurangi pahala orang yang mengamalkannya”

“minjemin buku”

Sedih kan sob kalau kenyataannya dinegri ini harga buku emang mahal banget. Jadilah banyak dari kita jadiin alibi untuk beli buku bajakan. Padalah ada solusi top untuk mengatasinya. Yaaps saling tuker bacaan. Selain bisa sharing bacaan, otomatis dengan meminjam buku kita bisa manjangin silaturrahim juga. Iya kan? :D

“Tebar senyum”

Senyum. Sederhana namun menyimpan sejuta makna. Tanpa sengaja dengan senyum kita meringankan beban sesama. Dengan memberikan senyum, maka orang lain akan membalasnya. Orang merasa dihargai, orang merasa dipercaya. Bahkan tidak jarang dengan senyuman kita mampu memotivasi orang lain.

“senyummu terhadap saudaramu adalah shadaqah”

~Baginda Rasulullah SAW~

“menulis status bijak”

Karena kata-kata berpengaruh besar dalam hidup kita. Maka sering-seringlah menggunakan kata-kata positif. Berhati hatilah dengan yang kita ucapkan karena itu mempengaruhi orang-orang disekitar kita. So, yuk belajar bijak!


“jika dalam sehari seorang saja yang termotivasi karena statusmu, maka dalam setahun kan ada 365 orang yang akan termotivasi.”

“Sebaliknya jika sehari satu orang saja yang tergalaukan karena statusmu, maka dalam setahun kan ada 365 orang yang tergalaukan karenamu”

Fahmi A. Fillah

Akhirnya semoga kita lebih peka terhadap pahala yang berserakan. Bahkan boleh jadi sesuatu yang dianggap remeh bernilai besar disisi Allah. Untuk menambah semangat kita baiknya kita simak petikan puisi dari taufik ismail berikut.

Tidaklah semua menjadi kapten
Tentu harus ada awak kapalnya

Bukan tinggi besarnya tugas yang menjadikan tingginya dirimu
Jadilah saja dirimu
Sebaik-baiknya dari dirimu
Wassalamualaikum :D
Read More..

Minggu, 06 Oktober 2013

Memakna Musibah Kebakaran





“ Sungguh menakjubkan orang beriman,semua urusannya baik bagi dirinya. Dan itu tidak akan terjadi kecuali pada orang beriman. Apabila diberi sesuatu yang menyenangkan, ia akan bersyukur, dan apabila diberi musibah/sesuatu yang tidak menyenangkan, ia akan bersabar. Dan kedua-keduanya baik baginya”


~Baginda Rasulullah SAW~


“Hidup ini adalah antara sabar dan syukur. Iman itu separuhnya adalah syukur dan separuhnya lagi adalah sabar”
~Imam Al ghazali~

Kita sudah sepakat, bahwa ketika Allah menghadirkan cobaan bukanlah untuk menguji kemampuan, karena telah diukur sesuai daya tahan. Tapi menguji sejauh mana kita mau memberi makna terhadap ujian yang Allah hadirkan. Sesiapa yang mampu memberi makna terbaik maka tertakjublah malaikat yang tak pernah di uji.

Salah satu lambang ujian yang sangat dahsyat adalah musibah kebakaran. Sungguh, kebakaran adalah ujian yang sangat berat jika iman sudah hilang didada. Segala yang dikumpulkan selelah tenaga. Lenyap semua hanya dalam hitungan jam saja. Jika iman tak ada, keluargapun bisa berantakan karenanya. Naudzubillah.


“kebakaran sebagai ujian”

Ujian dan adzab sesungguhnya sangat-sangat mirip. Apa bedanya ujian dan adzab? Ujian biasanya dihadirkan untuk orang-orang yang beriman dengan maksud untuk mengangkat derajat yang di uji. Meskipun terlihat sangat berat, tapi ketika dijalani dengan iman terasa sangat mudah dilalui.
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.

~Q.S Al-baqarah 214~

Lalu adzab? Ini sebagai peringatan langsung oleh Allah biasanya terasa sangat berat, dan berlangsung lama. Maka perlu kita koreksi apakah ujian ataukah adzab tersebab banyaknya dosa kita.

“Setiap orang akan dihukum atas dosa yang dilakukan. Cepat atau lmbat hanya soal waktu. Lebih cepat lebih baik, biar segera sadar dan mengambil pelajaran besar”.

~Abu Izzuddiin~

“Semua milik Allah, dan akan kembali kepada Allah”
Sesiapa saja yang terkena musibah baik kecil maupun besar , disunnahkan untuk membaca kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah). 

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" Sesungguhnya Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah Kami kembali.

(Q.S Al-Baqarah 156)

Hidup akan terus berkutat dengan kehilangan. Kehilangan merupakan cara TUHAN memperbaiki diri menjadi lebih baik.

~AR Fauzi~

“sebagai pengingat pentingnya menjaga silaturrahiim”
Musibah kebakaran akan mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga tali silaturrahiim. Saling membantu dalam kebaikan-kebaikan bertetangga. Karena disaat sempit, tetanggalah yang mengulurkan tangannya untuk memotivasi dan meringankan beban kita. Manusia adalah makhluk sosial. Tak ada yang mampu hidup sendiri, oleh sebabnya islam mengajarkan pembimbingnya untuk tidak kikir dan sombong. Karena orang kikir pun sesungguhnya membenci yang kikir. Unik.

“Belajar katidak abadian”
Kebakaran mangajarkan kita bahwa semua yang kita kejar susah payah hanyalah bersifat fana. Tidak ada yang abadi. Maka tidaklah pantas jika kita menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang fana. Padahal “cara” kitalah yang akan diabadikan dan depertanggung jawabkan dihari kemudian.

“Sabar dan syukur”
Alkisah, ada seorang mandor yang mengawasi seorang kuli yang sedang bekerja. Sang mandor ingin menyapa si kuli, maka dijatuhkanlah dari atas uang 50 ribuan. melihat uang , sang kuli mengambilnya dengan bahagia, tapi ia tidak menengok keatas. Ia tetap sibuk dengan pekerjaannya. Lalu sang mandor menjatuhkan lagi uang 100 ribuan. Si kuli mengambilnya namun tetap tak mau menoleh keatas. Akhirnya sang mandor menjatuhi batu tepat dikepala si kuli. Setelah kesakitan si kuli menengok keatas seraya mencari siapa yang menyakitinya. Sahabatku begitulah kita, ketika dengan diberi nikamat kita terlupa. Maka Allah mengingatkan dengan cara lain. Allah ingin menyapa kita. Agar kita selalu terhubung dengannya.

Sabar dan syukur adalah “dua kunci” kebahagiaan dalam kehidupan. Tanpa menyiapkan kunci tersebut, jangan berharap kita bisa membuka pintu-pintu kebahagiaan dalam kehidupan. Ketika dalam keadaan banyak masalah kita bisa menggunakan sabar sebagai “kunci” atau solusi terbaik. Sedang bersyukur adalah keharusan ketika Allah selalu memberi yang terbaik terhadap kita. Meskipun kadang kita tidak memahaminya.

Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
~Q.S Albaqarah 153~


Ketika ditimpa masalah atau musibah, sesungguhnya Allah sayang kepada kita, Allah ingin kita dekat. Allah hanya ingin kita berpegang dengan sabar dan shalat, Allah cemburu kepada kita yang sering mengingat selain-Nya.
Yang sabar akan beruntung. Yang syukur akan bertambah. Yang menyerahkan segalanya ke Allah takkan ia gundah.

Fahmi A. Fillah
Read More..

Aku Mencintaimu Karena Agamamu



“aku memncintaimu karena agamamu, jika hilang agamamu maka hilanglah cintaku”
~Imam Nawawi~
Sebaik-baik cinta adalah cinta yang landasannya karena Allah; sesuai rasa-Nya, sesuai porsi-Nya, sesuai kadar-Nya, sesuai ridha-Nya.
~Fahmi Akhi Fillah~

“Uhibbuki Fillah. Aku mencintaimu karena Allah”. Begitu kata pemuda-pemudi sekarang.  Benarkah? Seriuskah? Yakinkah kalau kamu sudah mencintai dan dicintai karena Allah? Engkau memanggilku abi dan aku memanggilmu ummi, Padahal belum menikah. begitukah cinta karena Allah? Bukan !

Sahabat yang kucintai Fillah. Kata “Aku mencintaimu karena Allah” memang mudah dan sering diucapkan. Tapi dalam kenyataannya itu hanya topeng  belaka, “pemanis buatan”. karena jika belum ada sebuah ikatan pernikahan semua yang berupa cinta teragukan ke”asliannya” tak dapat diyakini kebenarannya. Karena hati itu selalu bekerja dan berbolak-balik. Maka ketika tidak ada komitmen akan sulit untuk konsekuen untuk terus mencintai. Maka tidak ada kata cinta untuk lawan jenis sebelum pernikahan. Sebelum ada ikatan. Sebelum ada komitmen.

Lalu ketika aku tidak bisa tidur karenanya, ketika aku “semangat” belajar karenanya, ketika aku selalu memikirkannya, apakah itu bukan cinta? Lalu apa? Akhi, ukhti, cinta itu suci, maka jangan kotori ia dengan perbuatan keji. Cinta itu luas. Maka jangan persempit ia dengan hanya “cinta” kepada lawan jenis. Cinta itu indah, maka jangan hancur keindahannya karena kita tidak menempatkan sesuai porsi-Nya.

Kita bukan Malaikat yang tak punya hawa nafsu, kita juga bukan binatang yang hanya punya hawa nafsu. Kita dianugrahi akal dan nafsu. maka sesiapa yang bisa mengalahkan nafsunya, kan lebih mulia dari pada malaikat yang selalu taat. Rasa kecendrungan terhadap lawan jenis adalah wajar. Fitrah. namun kita diberi pilihan; apakah menjadikan rasa itu sebagai Anugrah dengan menuruti aturan-Nya . Atau menjadikannya sebagai bencana dengan mengikuti nafsu kita.

Nah, tentang perasaan “semangat” karena si doi perlu kita cek lagi, apakah itu “cinta”, atau hanya sesuatu yng menggungkan kesenangan nafsu? Tanya hati nurani, renungkan secara mendalam, pasti kita akan dapat membedakan.


“Sesuatu yang terlalu dekat tak akan Nampak terlihat, sesuatu yang terlalu jauh tak akan mampu teraih”
“Buanglah ‘ter’-nya jadilah biasa saja maka akan lebih nyaman dan mudah”.
~Disadur dari status mba annisa bahiraturramah~

Biasa aja. Bergaul seperlunya. Membantu seperlunya. Sekedarnya saja sebagai sesama ‘sahabat’. Investasikan waktu untuk membantu sesama Karena barangkali disaat sempit kau pun membutuhkan  uluran tangannya. Mungkin itu cara terbaik untuk tepap menjaga silatur Rahim terhadap sesama. Karena kita terlanjur kenal, maka tak mungkin untuk tak menyapa ketika saling jumpa.

"Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu: harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang taat beragama, engkau akan berbahagia."
~baginda Rasulullah SAW~

Yuk belajar mengelola hati. Agar kata “aku cinta kamu karena Allah” benar-benar terealisasi. Tugas kita sekarang adalah mempelajari ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalani kata “aku cinta kamu karena Allah” ini. Sehingga ketika tiba saatnya kita harus ‘memilih’ sosok yang akan kita jadikan sebagai ‘objek’ dari kata cinta kita tidak tersalah orang.

Islam adalah sebaik baik tatanan kehidupan. Islam adalah agama ‘rahmat’ bagi semesta alam. Islam adalah agama yang paham psikologis manusia, oleh sebabnya ketika menyampaikan tentang kriteria orang yang berhak menerima kata “aku cinta kamu karena Allah” islam mendahulukan tiga perkara yang menjadi kecendrungan manusia dalam memilih kekasihnya; yaitu, harta, kecantikan/ketampanan, keturunan. Tapi sesiapa yang memilih karena agama, maka beruntunglah ia.

     "Aku mencintaimu karena agamamu"
“Dapatkanlah wanita yang taat beragama, engkau akan berbahagia." Begitu wasiat sang Nabi.
Cinta yang paling sejati sekalipun akan tetap berpisah ketika nyawa tak lagi dikandung badan. Tapi kalau cinta karena agama. Kalau cinta karena Allah ia kan mengabadi hingga kesurga. Subhanallah!

Jikalau semua karena Allah pasti akan berakhir indah. Jika terniat karena Allah maka akan selalu ia permudah. Akan selalu ada senyuman disetiap epeside cinta.

    "Kupilih kamu karena kekayaanmu"
Harta. Ini juga salah satu faktor yang membuat seseorang cedrung jatuh hati kepada pemiliknya. Ini bahaya apalagi jika hanya menerjemahkan kekayaan hanya dengan kasat mata. Hilang harta, bisa jadi sama dengan hilang cinta.

Kekayaan sesungguhnya memiliki dua sifat, material dan immaterial. Kaya yang bersifat material yaitu harta nyata ini memang penting.  Tetapi ada yang lebih penting yaitu kaya yang bersifat immaterial; kaya hati, kaya pikiran, kaya iman, kaya kebahagiaan. Dan itu hanya bisa diperoleh oleh mereka yang belajar “Akhlak” yang menjadi salah atu ilmu yang wajib dipelajari seorang muslim.

     "Kupilih kamu karena kecantikanmu"
Kecantikan/ketampanan. Sampai kapan ia mampu bertahan? 20 tahun? Ah, ia pasti akan tergerus seiring berjalannya waktu. Ini bagi mereka yang memaknai kecntikan sebagai yang terlihat nyata. Layaknya multiple intelegence saya juga mau mengajukan konsep multiple beautyfull. Kecantikan majemuk. Bahwa kecantikan bukan hanya terlihat pada tampang tapi juga ada suatu kecantikan luar biasa yang tertutupi oleh yang terhias nyata. Itulah kecantikan akhlak, kecantikan perangai, kecantikan sikap. Dan itu semua diajarkan secara lugas oleh agama tercinta. Islam. Maka bahagialah mereka yang memilih ‘sang teman sejati’ karena kecantikan akhlaknya, karena kecantikan agamanya.

"Kupilih kamu karena keturunanmu"
Saking pentingnya masalah keturunan. Sampai-sampai salafus shalih mengisyaratkan, “jika ingin mengenal Aisyah, kenalilah Abu Bakar”. Subhanallah. Karena seringnya buah jatuh tidak jauh dari pohonya.

Kondisi yang baik dari keluarga cukup memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan akhlak sang wanita, dan bisa jadi merupakan tolak ukur akhlak seorang wanita. Wanita yang tumbuh di keluarga yang dikenal taat beragama maka biasanya iapun akan mewarisi sifat tersebut –meskipun hal ini bukanlah kelaziman-.

Akhirnya kita mungkin sudah punya kriteria, siapa yang akan menjadi teman sejati sebagai objek dari kata, “aku mencintaimu karena Allah”.


“Yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Yang semangat akan dapat. Yang sabar akan beruntung. Yang bersyukur akan bertambah. Yang selalu ada Allah dalam setiap urusannya akan senantiasa bahagia mangabadi hingga ke surga”.

Muhammad Fahmi Akhukum Fillah

Read More..

Sabtu, 05 Oktober 2013

sekedar waqfah



Hangatnya mentari dipagi itu tak sehangat kasih sayangmu…
Indahnya purnama dimalam itu tak seindah senyummu…

Wahai bunda, bidadari tercintaku…
Wahai senyum yang selalu ditunggu…
Wahai peluk yang selalu dirindu…
Wahai kasih yang senantiasa syahdu…

Wahai bunda bidadari terkasihku…
Aku merindu kembali kehangat pangkuanmu…
Seperti dulu…
Kala aku masih suka menangis pilu…
Kala aku masih suka merengek tanpa malu…
Engkau tetap sabar dengan segala salahku…
Engkau tetap lemah lembut dengan sayangmu…

Wahai bunda penyejuk hatiku…
Perjuangamu… Kasih sayangmu…
Takkan bisa diukur dengan tingginya gunung
Takkan bisa dihitung dengan banyaknya buih lautan
Takkan bisa ditimbang dengan beratnya besi baja
Takkan bisa ditukar dengan milyaran ringgit malaysia



Read More..

Selasa, 01 Oktober 2013

bermetamorfosa menjadi muslim sejati




Didalam dunia pendidikan kita sekarang, -menurut ustadz Mohammad Fauzhil Adhim dalam bukunya segenggam iman anak kita- para guru/calon guru memang diajarkan untuk mendidik anak, Tetapi ini pun tidak cukup. Jika guru hanya mengajarkan materi pelajaran, sementara mereka tak punya komitmen yang tinggi dan kepedulian terhadap iman anak didik. maka jangan terkejut jika anak-anak fasih berbicara tetapi hampa imannya. Mereka pandai berbicara tentang agama, tapi tak meyakininya sepenuh jiwa

“Pendidikan karakter” itulah yang menjadi bahan perbincangan pakar pendidikan kita. Mereka nampaknya sudah semakin gerah meliahat realitas social kemanusiaan kita yang semakin jauh dari nilai-nilai luhur. Karena berhala-berhala yang silih berganti menggoda diri kita, manusia semakin tidak tangguh untuk menjaga sikap istiqamahnya ‘ahsanu taqwim’ (ciptaan Allah yang terbaik) mereka caggung untuk berpproses menjadi insan kamil (meminjam istilah JIL ) karena proses perbaikan akhlak untuk menggapai akhlak yang baik memerlukan kesabaran yang luar biasa.

Pendidikan untuk “pencerdasan diri” seperti ini adalah visi dan misi islam sejak agama ini pertama diturunkan Allah SWT. Penanaman sikap tauhid dan akhlak adalah dua ‘kunci utama’ pendidikan yang ditawarkan islam. Tauhid adalah akar kepribadian sedang akhlak adalah buahnya. Tanpa akar yang kuat –kata para ulama- tamanan mudah tercerabut berpeluang layu dan akhirnya ‘mati’. Namun akar yang kuat saja tidaklah cukup, apabila pohon tidak dirawat dengan penuh kesabaran sejak ditanamnya benih, maka jangan harap memberikan kesempurnaan hasil yang diidamkan.

Pendidikan akhlak dalam pandangan ibn maskawaih tidak bisa dibatasi pada ‘sekedar’ baik dalam konteks hablum minan naas tetapi lupa kepada Allah, dengan melalaikan kewajibannya kepada Allah. Seorang yang senantiasa bermuamalah dengan baik, seraya mempertontonkan ‘auratnya’ tidak bisa disebut berakhlak mulia. Ia juga harus meyakini seyakin yakinnya bahwa setiap tindakan diminta pertanggung jawabannya. Oleh karenannya iman yang menjadi pondasi akhlak mulianya akan menjadikannya manusia yang menjaga nobility of character/muruah-nya.

Dalam perspektif spritualitas islam, jika manusia ingin mencapai derajat kesempurnaan, manusia harus melalui proses tiga tahapan latihan spiritual. Pertama At-takhally/zero mind process (mengosongkan diri dari segala keburukan atau kejahatan). Kedua At-tahally/character building (menghiasi diri dengan perilaku baik) dan yang terakhir adalah at-tajally/god spot yaitu dimana kondisi kausalitas ilahiah termanifestasikan dan teraktualisasikan.

Perjalanan untuk mencapai husn al khulq itu sangatlah melelahkan, karena harus berpisah dengan ‘berhala-berhala’ yang selama ini mereka cintai, “dunia dan segala rangkaian kenikmatan yang telah memanjakan nafsu.

Atas dasar itulah, ketika saya berdiskusi dengan ustadz Muhsin Hariyanto M.Ag (Dosen FAI UMY dan STIKES Aisyiah) menyarankan pemuda khususnya saya, dengan nada candaan yang sederhana namun mengena didalam dada. “Kalau memilih pasangan hidup” kata beliau, pilihlah karena akhlaknya jangan karena kecantikannya. Karena kalau kecantikan, banyak salon yang dapat memolesnya, tapi adakah salon untuk perbaikan akhlak? Berat, perlu kesabaran. Karena proses pertumbuhan karakter memerlukan waktu yang panjang.

Eh eh, kok lari kesana pembahasannya ? hehehe balik balik.Nah, sekarang. Pertanyaan pentingnya bagi kita adalah, cukup nyalikah kita untuk menjadi orang –orang yang mengawali langkah-langkah kedepan untuk menjadi orang yang memiliki sifat sabar dan istiqamah dalam bermetamorfosa menjadi manusia-manusia langka, manusia yang berakhlak mulia ditengah kehidupan yang tak cukup bersahabat bagi diri kita?
Read More..