Kamis, 30 Mei 2013

hikmah

Suatu ketika, seorang pemuda memberanikan diri untuk meminang seorang gadis yang ia anggap sesuai dengan kriteria istri impiannya. Ia seorang dokter (ketika itu masih calon), seorang muslimah yang sepanjang hidupnya menutup rapi Auratnya. Ia juga gadis yang taat kepada orang tuanya, simple, apa adanya, dan yang paling penting Ia tak berlebihan meskipun Ayahnya memiliki banyak harta (singkat kata ia sederhana). “agamanya?”  ia salah satu lulusan terbaik di sebuah pondok pesantren, (meskipun ini tidak menjamin) setidaknya ia sudah mempunyai bekal yang cukup untuk menjadi istri shalihah.
Malam itu sebenarnya tidak terlalu dingin, suasananya damai, penuh ketenengan ( mungkin ini interpretasi dari
“baiti jannati” kerena rumah itu selalu dibacakan Ayat-ayat Allah) berlangsunglah perbincangan hangat sebagai “kata pengantar” untuk menguturakan maksud si pemuda. Setelah lama berbincang, Tibalah saatnya bagi pemuda tersebut untuk menyatakan maksudnya. Dengan Asma Allah, ia utarakan maksudnya. Ayah si gadis pun tersenyum menanggapi maksud si pemuda. Sebenarnya boleh saja si Ayah memutuskan untuk menerima atau menolak (karena Ayah merupakan wali mujbir,  wali yang boleh memaksa gadisnya untuk menikah) namun, karena ayah si gadis ini adalah orang yang bijak, ia lalu memberikan kesempatan kepada Anaknya untuk menjawab.
Entah apa yang terjadi, si gadis kemudian menangis tersedu-sedu. Sebenarnya ia tau bahwa si pemuda adalah orang yang baik, bijak, dan sesuai dengan kritria suami impiannya. Namun, Ketika itu terlontarlah ucapan dari mulutnya “ Maaf akhi, antum terlambat” . bagaikan diserang angin puting beliung si pemuda dan keluarga tak karuan rasa. Gadis impian yang sudah di depan mata, akankah dahulu orang menjemputnya? Keyakinan yang Awalnya membara, sirna ciut tak ada rasa. Si pemuda berusaha pasrah dan rela menerima.
Namun tidak sampai disitu ternyata. Ketika tangisan si gadis melai reda. Dengan Nafas panjang ia perjelas maksudnya: “Maaf akhi, Antum terlambat. Harusnya Antum meminang saya lebih cepat, biar kita Nikahnya juga lebih cepat”
Semuanya terdiam saling menatap, dan akhirnya saling senyum ketika memahami maksud si gadis bahwa sebenarnya dia sudah lama menunggu saat-saat itu. Sehingga dia mengatakan terlambat, dan harusnya lebih cepat.

Hikmah : ketika tujuan akhir agama, Maka Allah akan permudah jalannya.
Read More..

Sabtu, 11 Mei 2013

gerakan pembangkang zakat pada masa Abu Bakar

Kegoncangan-kegoncangan terus melanda dunia islam, susul menyusul datangnya. Jika kegoncangan dan kekacauan yang satu sudah dapat di atasi, di tempat lain muncul hal yang sama. Abu Bakar bahkan harus menghadapi sikap sebagian kaum muslimin yang tidak mau membayar Zakat.Penolakan mereka untuk tidak membayar zakat dilatar belakangi oleh berbagai motivasi.diantaranya, karena merasa sayang melepaskan harta benda yang dimilikinya. Sebagian lainnya menganggap, bahwa pemberian Zakat sama halnya dengan membayar pajak atau upeti kepada pemerintahan islam. Mereka menganggap bahwa setelah Rasulullah wafat, tidak ada lagi orang lain yang berwenang memerintah untuk mewajibkan membayar zakat. Tidak ada satupun bagi mereka yang berhak menjadi pemimpin, setelah Rasulullah SAW wafat.Itulah sebabnya mereka bertekad untuk tidak mau tunduk kepada hokum yang ditetapkan Abu Bakar.[1]

Suku bangsa Abes, Dzabyan dan suku-suku lain yang tinggal di sekitar madinah, bertekad untuk menolak zakat. Lalu apakah yang akan dilakukan kaum muslimin terhadap mereka? Bukan sebab suatu yang mudah memerangi kecongkakan mereka, setelah abu bakar mengirimkan pasukan usamah ke tapal batas Romawi .dengan demikian kekuatan islam di madinah tinggal tersisa sedikit. Apakah kaum muslimin harus menerima keinginan mereka untuk tidak membayar Zakat sehingga mereka masih bergabung dengan dengan barisan kaum muslimin?Ataukah sebaliknya mereka harus diperangi, sehingga musuh Islam semakin bertambah? Jika kaum muslimin memerangi mereka bukankah jumlah pasukan yang tersisa tidak mencukupi ?

Abu Bakar segera bertindak cepat menghadapi dilema terebut sulit semacam itu.Tokoh-tokoh sahabat nabi dikumpulkan untuk diajak bermusyawarah memecahkan penanganan penolakan membayar Zakat dari sebagian suku bangsa Arab itu.Dalam musyawarah yang penting tersebut, terdapat dua kubu pemikiran.Umar Bin Khathtab dan sebagian besar sahabat lainnya mengusulkan agar khalifah Abu Bakar tidak perlu memerani mereka.Sebab kekuatan mereka dapat dijadikan tambahan pasukan bagi kaum muslimin untuk menghadapi musuh selanjutnya.Alasan Umar dan kawan-kawan didasarkan pada kenyataan bahwa mereka masih beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.Oleh sebab itu tidak ada alasan yang kuat untuk memerangi mereka.Sedang sebagian kecil tokoh sahabat lainnya justru berpendapat bahwa kaum penolak Zakat harus diperangi.

Dengan ketegasan sikapnya, Abu Bakar memilih untuk memerangi orang-orang yang menolak membayar Zakat Ia berkata dengan tegas : “Demi Allah, seandainya mereka tetap menolak untuk memberikan zakat walau hanya seutas tali, aku akan bertekad memerangi mereka”. Umar langsung bereaksi menanggapi sikap tegas Abu Bakar seperti itu : “bagaimana anda memerangi mereka, sedangkan Rasulullah SAW pernah bersabda : ‘Aku hanya diperintah untuk memerangi ornag-orang sampai mereka mengucapkan : Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasulullah. Jika mereka mengucap kalimat itu, maka darah dan hartanya akan aku jaga, kecuali Allah menentukan hak-Nya yang lain”, tandas umar memberi alasan.

Demi Allah, aku akan memerangi orang-orang yang memisahkan antara shalat dan Zakat. Karena zakat merupakan hak dari harta yang mereka miliki. Bukankah engkau sendiri yang berkata bahwa beliau bersabda : “… keculi dengan hak-Nya?” mendengar jawaban Abu Bakar ini Umar membenarkan. Ia lalu berkat : “Demi Allah, aku tidak ragu-ragu lagi. Au melihat bahwa Allah telah membukakan pintu hati Abu Bakar untuk berperang, aku merasa yakin bahwa tindakannya itu benar.

Gerakan penolakan zakat dari suku Abes dan Dzubyan didukung pula oleh suku Kinanah, Gatafan dan Fazarah.Mereka kemudian bergabung menjadi satu bermarkas di dekat Madinah.Guna melancarkan gerakan selanjutnya, kelompok pembangkang ini lalu dipecah menjadi dua kelompok. Satu kelompok bermarkas di Abraq, suatu tempat yang dekat kota Madinah dari arah Rabadah. Sedangkan kelompok lainnya bermarkas di Dzil Qassah, tempat yang paling dekat menuju pusat kota madinah dari arah Najas. Mereka mengirimkan utusan untuk menemui khalifah Abu Bakar dan tokoh-tokoh Islam lainnya di Madinah. Tujuannya tidak lain adalah agar Abu Bakar mau menerima keinginan mereka. Yaitu dibebaskan dari membayar zakat, meskipun masih tetap menunaikan shalat.Jawaban Abu bakar tetap seperti yang pernah ditegaskannya.

Utusan para pembangkang itu kembali kemarkas mereka guna melaporkan jawaban Abu Bakar.Kesempatan masuk Madinah dipergunakan untuk menyelidiki celah-celah kelemahan kaum muslimin. Menurut pengamatan mereka, madinah pada saat itu terbuka tanpa penjagaan, akan terapi gelagat itu diketahui oleh Abu Bakar, sebelum mereka bertindak jauh, Abu Bakar menyiapkan strategi, ia kemudian mengumpulkan kaum muslimin dan memanggil Ali, Zubair, Thalhah dan ibnu mas’ud. Mereka diminta untuk bersiap penuh menjaga pintu gerbang kota Madinah. Sedang kaum muslimin dikumpulkan dimesjid untuk bersiap-siap menghadapi pertempuran.

Perhitungan Abu Bakar ternyata tidak meleset.Tepat tiga hari kemudian pasukan “Zakat” itu datang ke Madinah.Mereka ingin khalifah memaksa kemauan mereka.Para penjaga yang sudah siap sebelumnya, memberitahukan kedatangan mereka ke Ali dan kawan-kawan yang kemudian mengutus seseorang untuk menemui Abu Bakar dan menentukan langkah selanjutnya. Abu Bakar bersikap tenang sambil berkata ; “tetaplah kalian tdi tempat masing-masing”.

Abu Bakar kemudian membaywa kaum muslimin yang ada di masjid untuk mengikutinya. Dengan mengendarai unta, pasukan muslimin itu menyambut kaum pembangkang yang akan memasuki Madinah. Kejutan ini membuat kaum pembangkang kaget, karena diluar dugaan mereka, kemenangan yang sebelumnya diharapkan akhirnya berubah menjadi kepahitan.Pasukan muslimin berhasil menghalau mereka, bahkan mengejar samapa ke Hussa, markas cadangan kaum pembangkang. Melihat pasukan yang mereka kirim kemadinah tunggang langgang, para pembangkang mulai kebingungan, mereka kemudian memutar otak untuk menjebak kaum muslimin. Tempat-tempat yang mereka buat dari kulit, mereka isi dengan udara sampai menggelembung.Setelah itu dipukul kearah kaki dan wajah unta-unta.Karena unta yang digunakan kaum muslimin bukan unta yang biasa digunakan untuk berperang, unta-unta pun ketakutan dan berlari menuju Madinah.

Suasana kemenangan mewarnai suku Abes dan Dzabyan, mereka memberitahukan kejadian ini kepada teman-temnnya di Dzil Qassah, tak lama kemudian mereka berkumpul untuk merumuskan strategi selanjutnya.Tetapi, Abu Bakarsbeserta kaum muslimin dimadinah tetap bersiaga saat itu, sambil mempersiapkan diri menggermpur benteng pertahanan lawan, Abu Bakar menyusun rencana untuk melakukan penyerangan.Dibaginya kaum muslimin menjadi tiga bagian, terdiri dari pasukan sayap kanan, sayap kiri dan jantung penyerangan.Mereka diharuskan bergerak beriringan dan dengan langkah cepat agar langkah tidak diketahui lawan.

Ketika malam masih menyisakan sepertiga bagiannya, pasukan muslimin segera beraksi sesuai formasi, bagaikan kilat menyambar, gerakan mereka mampu membabat habis lawan yang masih terlelap dimabuk kemenangan. Barisan sayap knan yang dipimpim oleh Nu,man ibn Muqarrin pun berhasil melaksanakan tugasnya membendung sisa barisan musuh yang nekad melawan. Bagaikan burung yang kehilangan sayapnya, barisan kaum pembangkang itu menyerah tanpa mampu berbuat apapun.[2]

1] Muhmmad Husain Haikal, Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq (Jakarta: Qisti press, 2007 ), hal. 120
[2]Ibid, hal.124
Read More..

Jumat, 03 Mei 2013

kewajiban orang tua terhadap anaknya

Tanggal 2 mei yang baru saja berlalu, merupakan hari yang bersejarah bagi Indonesia, hari itu dijadikan sebagai hari pendidikan Nasional. Saya kemudian teringat isi khotbah singkat pak DR. Abdul ghafur isinya sangat menarik, yang mungkin membuat para pemuda tersenyum lebar, mereka (saya khususnya) menemukan sebuah titik terang tentang cara yang harus ditempuh untuk meraih kebahagiaan masa depan :D

Haduuh fahmi bertele-tele banget, apa hubungannya coba sama hari pendidikan ? J hehehe sabar dikit dan jangan diterusin membaca. Eeh dibilangin malah ngeyel , jangan diterusin, berhenti !

Ketika itu pak DR. Abdul ghafur memaparkan tentang percakapan seseorang yang dituduh nakal dengan sayyidina Umar. Umar tidak lantas menyalahkan “seseorang” yang dituduh nakal tadi, lalu Umar b. khattab mencari tau kenapa si anak tadi menjadi Nakal, berikut kira-kira percakapannya, dangan redaksi yang berbeda tapi substansinya sama insya Allah,;

Anak : (اليس حقوق الولد لابيه؟ ) bukankah seorang anak memiliki hak-hak terhadap orang tuanya ?

Umar menjawab : (نعم) ya

Anak : (ما هي يا امير المؤمنين؟ ) apa saja hak2 itu hai Amirul mu’miniin ?

Nah, jawaban sayyidina Umar ini yang kemudian membuat beberapa pemuda tersenyum, namun juga harus mengintrospeksi dirinya :D

Sayyidina umar memulai jawabannya dengan (ان ينتقي امه) jadi , salah satu kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah memilihkan ibunya, yaitu memilih calon istri :D . kalau kita mau memperhatikan, betapa luar biasanya konsep penddikan dalam islam, jauh-jauh hari islam merumuskan strategi terbaik untuk peserta didik, bahkan mulai dari ketika orang tuanya masih muda,masih belum punya pasangan. kenapa islam menyuruh memilih istri yang baik ? karena rumah adalah tempat pedidikan pertama, dan ibu adalah pendidik terbaik sepanjang masa.

Kemudian yang kedua adalah (ان يحسّن اسمه) memberinya dengan Nama yang baik. Kita sering mendangar ungkapan, “apalah Arti sebuah nama” ini sangat bertentangan dengan konsep pendidikan dalam islam, bukankah Nama itu bagian dari doa (الاسم جزء من الدعاء) ? bukan kah ketika diakhirat seseorang dipanggil dengan namanya dan Nama Ayahnya ?

Kemudian Umar meneruskan yang ketiga yaitu (ان يعلمه ا لكتاب اى القران) kewajiban yang ketiga yaitu mengajarkan Alqu’ran. Kalau hal ini sudah dilaksanakan, saya rasa tidak perlu lagi tes membaca Alqur’an di UIN kita ter (ter apa yah ? ) jawab sendiri aja deh :D

Si Anak kemudian melanjut kan perbincangannya, (لم يفعل شيأً عليَ من تلك الثلاثة) orang tuaku tidak pernah melakukan semua itu. (سمّني جعلان) mereka menamai aku ji’lan (artinya parit ) (اما امي المجوسي) adapun ibuku adalah seorang majusi (ولم يعلّمني حرفا من القران) dan orang tuaku tidak pernah mengajarkan aku satu huruf pun dari pada Al-qur’an.

lalu salahkah jika dia menjadi anak yang nakal ? ini tanggung jawab kita sebagai seorang pemuda/i. dan juga sebagai wadah kita untuk mengoreksi dan berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik, begitulah Islam, tidak ada referensi yang lebih baik daripadanya. Semua permasalahan sebenarnya bias dipecahkan oleh islam, cuman karena kita kering pemahaman terhadap islam, dan lebih bangga terhadap pemikiran Asing, akhirnya kita tertinggal.

Untuk menashehati diri ini, dan juga teman-teman, saya mempunyai syiir yang harus kita gunakan untuk Renungan. Yang pengen menghafal silahkan, karena saya juga dulu diwajibkan untuk menghafal, untungnya saya tidak pernah disuruh mengangkat kursi J #kangenpondok.ac.id

(يسعى الفتى لامور قد تضر به وليس يعلم ما يأتى وما يضع) "seorang pemuda, ketika bekerja terkadang pekerjaannya memudaratkan dirnya sendiri, karena dia belum tahu apa yang akan dating dan Apa yang telah berlalu.

Syiir ini selaras dengan lagu rhoma irama, yang didalam film sang pemimpi oleh seorang siswa dijadikan sebagai kata-kata inspirasinya, ketika sang guru meminta untuk mengucapkan kata inspirasi hari ini, kata2 itu adalah, “darah muda, darahnya para remaja” yang tak pernah mau mengalah walau salah tak peduli.

Syiir kedua yaitu (التوبة حسنة ولكن للشباب احسن) taubat itu baik tapi bagi seorang pemuda lebih baik
(الحياء حسن ولكن للنساء احسن) malu itu baik, tapi bagi seorang perempuan, malu itu lebih baik. Sayangnya dua hal ini sudah mulai memudar dikalangan pemuda dan pemudi, nilai-nilai seperti itu dinggap kolot dan ketinggalan zaman, Astaghfirullaah, mari kita berusaha menjadi generasi terbaik, :)

terima kasih mau mambaca tulisan yang amburadul ini… looks easy with a glass of tea. Ais.


Read More..

Sabtu, 20 April 2013

apakah benar sesuatu yang tidak dikerjakan rasulullah "terlarang dan haram'?


Sebuah refleksi pemikiran, Belajar inshof (proporsional), bisa moderat, bisa memandang permasalahan sesuai amanah ilmu dan yg diinginkan syariat. Tulisan ini dihadirkan untuk menambah wawasan, dan menjadi ajang untuk berdiskusi bagi kita.

masuk topik :) Jika kita memperhatikan sebagian muslim yang terlalu bersemangat "melakukan pembenahan" (dalam tanda petik yah) saat "mengingatkan" Sesama saudara muslim yang lain, yg menurut mereka melakukan hal bid'ah adalah kata: "Ini tidak boleh, karena Nabi tidak melakukan". Atau dalih "Salaf tidak pernah melakukan hal ini, apa kita merasa lebih baik sehingga buat "amalan baru"?" Sekilas, dalih itu seolah benar dan cukup logis, dijamin deh orang awam pasti diem kalau dibilangin ini nggak dilakuin Nabi.

Kalimat yang secara teks benar tapi secara target itu salah, sering digunakan sebagai dalil bagi orang yg melarang tahlil, maulid, dll. Nah, sebenarnya, apa memang benar bahwa sesuatu yang tidak dilakukan Nabi itu TERLARANG DAN PASTI HARAM? Orang yang berpikir bahwa sesuatu yang tidak dilakukan Nabi atau salaf serta merta terlarang menunjukkan cara berpikirnya yg masih pendek.

Sebab pada dasarnya sesuatu yang tidak dilakukan Nabi tidak lantas begitu saj adiartikan terlarang. Harus ada dalil jelas yang menunjukkan larangan, Karena jika "Sesuatu yg tidak dilakukan Nabi" itu dianggap dalil. Akan banyak sekali hukum yg batal. Sebab tak ada di zaman Nabi. Contoh: berapa ribu fatwa dan hukum hasil ijtihad para ulama kita sepanjang masa yang tak ada di zaman Nabi juga tak dilakukan beliau.

Maka artinya jika kamu ketemu orang melarang sesuatu dg dalil "Nabi tidak melakukan", artinya orang itu sedang berkicau saja, hoax. Sebab dalil itu empat; Qur'an, hadits, Ijma' dan Qiyas. Nabi tidak melakukan atau Nabi meninggalkan sesuatu itu bukan dalil. Justru sikap Nabi itu malah menunjukkan ketiadaan dalil, yg dalam ushul fiqh dikenal dg istilah "Mas-alatut Tark".

Maka artinya, ketiadaan dalil tidak bisa dijadikan sebagai argumen untuk melarang sesuatu. Namun harus dihadapkan dg dalil2 umum. Lalu apa alasan Nabi tidak melakukan sesuatu itu? atau meninggalkannya? ada beberapa faktor, dan yg pasti tidak menunjukkan pelarangan. Semisal beliau tidak melakukan sesuatu karena khawatir akan diwajibkan buat ummatnya, sperti kasus shalat tarawih dan siwak. Atau semisal beliau meninggalkan sesuatu sebab terlupa, seperti pernah sholat asar dua rakaat saja & beliau bilang bahwa bliau juga manusia. Atau semisal beliau tidak melakukan sesuatu karena telah masuk dalam keumuman dalil qur'an dan sunnah semisal maulid dan tahlil. Atau beliau tidak melakukan sesuatu karena hal itu tak terlintas di benak beliau semisal mimbar, yg disuggest oleh para sahabat.

Maka artinya, jika hendak melarang sesuatu, di sana harus ada dalil yang jelas bahwa beliau memang terang2an melarang. Dan jika tidak ada dalil yang melarang artinya juga kita tidak bisa seenaknya main larang. Emang ini syariatnya siapa kok main larang. Intinya, Nabi atau salaf tidak melakukan sesuatu, artinya bukan lantas sesuatu itu dilarang, tetapi malah menunjukkan kelonggaran untuk melakukan sesuatu yg tidak dilakukan Nabi selama ada landasan dalil umum yang mencakupnya di sana.

Mungkin sebagian orang masih tidk terima dengan pendapatku ini dan menyanggah pakai dalil "lau kana khoiron la sabaquna ilaih" Andai sesuatu itu bagus maka tentu mereka melakukannya lebih dulu dari kita... apa nggak sadar kalau lagi2 dia salah dalil? Sebab dalil salah yg dia pakai ini adalah kata2nya orang kafir! coba dicek di qur'an.. ya gini ini akibat suka menggal2 dalil. Atau memakai dalih perbandingan yang tidak masuk akal sekaligus tidak logis, "Apa kalian merasa lebih baik dari Nabi?"

Coba pikir baik2, mana ada orang Islam yg waras yg merasa lebih baik dari Nabinya? Qiyas ma'al Fariq yg sangat lucu sekali.. Pada akhirnya, jika memang ingin melarang sesuatu, hadirkan dalil yg jelas, jangan dalil muter-muter yang malah membingungkan ummat. Sebab segalanya telah jelas di al-Qur'an dan Sunnah mana yg boleh dan mana yg tidak. Bukan yg mana tidak dilakukan atau ditinggal Nabi. Di alqur'an dikatakan "wa maa atakumur Rosulu fa khudzuhu wa maa NAHAKUM anhu fantahu..." Bukan "wa maa TAROKAKUM" atau "wa maa LAM YAF'ALIR Rosulu fantahu" .

Semoga mencerahkan, Mari pelajari agama ini dengan utuh, jangan separoh2, biar tidak salah dalil dan malah buat hukum baru. In uridu illa-l islaha mastatho'tu wa maa taufiqi illa billah.

Akhirnya, mari berargumen dengan subjektifitas, mari berargumen untuk mencari kebenaran, jngan sampai lupa sabda nabi lupa dg sabda Nabi "Khudzil hikmah min ayyi syai-in khorojat" juga dengan paradigma "Al-Muslim akhul muslim", malah terjadi sebaliknya, "al-muslim aduwwul muslim", aneh tapi nyata. Kita mengaku agen dakwah tapi kita lupa fiqhud da'wah, "ud'u ila sabili robbika bil hikmah... wa jadilhum billati hiya ahsan". Kita saling ingin mengubah keadaan menjadi lebih baik, tapi kita melupakan Ihsan.

Silahkan ber Komentar, masih banyak dalil yang penulis tidak ketahui, apa yang kamu ketahui sampaikanlah, kita mencari kebenaran dan belajar bersikap moderat.

Bismillah, mari silahkan :)
Read More..

Rabu, 16 Januari 2013

Galau ? saatnya ubah sudut pandang

Masalah itu banyak manfaatnya ? ah yang bener aja ? bener sob. Sebab Rasulullah mengajarkan berfikir positif. “orang-orang mu’min yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas prilaku buruknya itu lebih baik itu lebih baik dari pada orang-orang mu’min yang tidak bergaul dengan dan tidak bersabar atas perilaku burukyang dilakukannya.

· Masalah adalah penebus dosa. Dengan memiliki masalah orang belajar dari kesalahan, dosa, maksiat dan sejarah buruk hidup. Allah sedang menunjukkan dosa kita untuk berbenah. Itulah tarbiyah ilahiyah. Maka freshkan diri, luruskan misi, bersihkan hati, kuatkan motivasi, kembalikan orientasi asli, barang kali adalah kebengkokan langkah selama ini. “ikutilah perbuatan burukmu dengan perbuatan baikmu, maka akan menghapuskannya. Begitu pesan nabi. Tegarlah menghadapi masalah seperti nashehat imam syafiie.  
 
“biarkan hari hari berbuat semaunya
dan buatlah hari-hari ini rela ketika takdir tiba
jangan gelisah dengan kelamnya malam
karena peristiwa didunia ini tak ada yang abadi”


· Masalah itu nikmat kehidupan. Buakankah nahkoda yang handal lahir kartena adanya ombak yang besar ? Masalah itu seperti garam bagi sayur. Tanpa masalah hidup terasa hambar dan datar. Maslah membuat kita tertantang, dan senang jika berhasil menghalau halang rintang yang menghadang. Nikmatillah masalah agar selamat dunia akhirat. “tiga hal yang mendatangkan keselamatan, adalah takut kepada Allah dalam keadaan sepi maupun ramai, berhemat pada saat kaya ataupun miskin, dan berlaku adil dalam keadaan ridha ataupun murka.

· Penyaring mutu peningkat derajat. Orang yang tidak sabar menghadapi masalah atau tidak bersyukur memegang Amanah sering dikkatakan nggak kuat derajat. Masalah adalah indikator penyaring mutu, ujian kenaikan tingkat.murninya emas karena disapuh. Bukankah kuatnya batu bata karena di bakar? Bukankah bersihnya air karena mengalir? bukankah kokohnya baja karena dilebur?. Cerdasnya otak karena digunakan untuk berfikir?
· Banyak masalah banyak ilmu. Bukankah semakin banyak jam tayang semakin banyak jam terbang? Semakin bertambah pengalaman? bukankah pengalaman adalah guru yang terbaik? Ditambah lagi adanya “the power of kepepet” otak berlari kesana kemari untuk mencari solusi, Saat menghadapi tantangan itulah semakin bertambah ilmu.
· Masalah sebagai seleksi. Hidup adalah ujian. Seleksi kehidupan. Siapa yang mampu bertahan. Dialah hamba pilihan.
Tetaplah semangat karena tidak ada alasan kenapa kita harus “putus asa” ? bukankah masih banyak orang-orang yang menanti senyuman kita? Toh kita masih punya yang kuasa, yang maha segala galanya? Libatkanlah Allah dalam semua masalah kita, baik suka maupun duka. “jika kau mengingat Allah dikala suka, niscaya Allah akan mengingatmu dikala duka.
Read More..